Menurut monfabay.co.id, kawasan mangrove di Indonesia termasuk hutan paling kaya karbon yang ada di dunia. Karena mengandung karbon tiga kali lebih banyak dibanding hutan tropis yang ada di dataran rendah, dan memiliki lebih banyak lima kali dibanding hutan tropis yang ada di dataran tinggi.
Hasil konvensi hukum laut internasional (UNCLOS ) pada 10 Desember 1982, luas laut Indonesia 3.367.357 kilometer persegi, dan daratan hanta seluas 1.919.440 kilometer persegi. Catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2022 mengatakan 19,45 juta ton sampah rumah tangga, terbilang 18,55 persen adalah sampah plastik. Sebanyak 70 – 80 persen sampah plastik itu bermuara ke laut Nusantara, atau sekitar 480 ribu ton hingga 1, 29 juta ton setiap tahun. Hasil penelitian World Wildlife Fund (WWF) Indonesia mengungkap sebanyak 25 persen ikan laut telah mengandung bahan mikroplastik. Dalam versi kerja sama Ekonomi dan Pembangunan Asia Pasifik (APEC), kerugian ekonomi Indonesia bisa mencapai USD450 juta atau sekitar Rp 6,75 triliun per tahun akibat sampah plastik yang mencemari laut.
Dalah masalah yang rumit dan kusut inilah, relevansi Korp Marinir Indonesia menjadi sangat penting untuk mendapatkan perhatian secara khusus untuk menjaga keamanan dan kenyamanan serta pertahanan laut kita yang maha luas dan sangat besar potensinya untuk dikelola kemanfaatan serta kelestariannya untuk bangsa dan negara Indonesia.
Marinir sebagai bagian dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut adalah salah satu pasukan TNI yang menguasai operasi ampibi, pertahanan pantai, pengamanan pulau terluar yang strategis, pembinaan potensi maritim, serta pembinaan kekuatan dan kesiapan operasi satuan Marinir untuk mewujudkan kekuatan pertahanan dan keamanan NKRI.
Dari informasi yang dikumpulkan, Atlantika Institut Nusantara mencatat, Korps Marinir Indonesia terdiri dari tiga divisi pasukan (1) di Cilincing, Jakarta Utara, (2) di Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur dan (3) di Kalaurung Sorong, Papua Barat Daya. Agaknya, dari Tiga Pasukan Marinir Indonesia yang ada di tiga titik pusat komando itu, perlu ditambah di beberapa titik lainnya yang cukup strategis untuk memagari Indonesia dari berbagai ancaman di laut kita. Kecuali itu, tentu saja bukan hanya fasilitas tempurnya yang perlu ditingkatkan, tapi juga jumlah personil serta fasilitas yang lebih mumpuni dan memadai berikut kesejahteraan prajurit kita ini yang sudah ikhlas bertugas di pedalaman yang jauh dari keramaian bahkan keluarganya. Waktu liburan pun — untuk berkumpul dengan keluarga di kampung halaman mereka — patut mendapat prioritas agar kejenuhan serta ikatan kekeluargaan yang manusiawi tetap terjaga.














