PDHI Sumsel Audiensi Dengan Pemkab OI Bahas Isu Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Pengembangan Plasma Nutfah Lokal
Palembang – Media Cakrabuana ID
Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan, pengendalian penyakit zoonosis, serta pelestarian plasma nutfah lokal, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama sejumlah pemangku kepentingan menggelar Audiensi Isu Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Ogan Ilir, Selasa (30/09/2025). Audiensi berlangsung di Kantor Bupati Ogan Ilir dan dihadiri oleh berbagai instansi strategis, baik dari unsur pemerintah pusat, provinsi, maupun organisasi profesi.
Audiensi dibuka oleh Asisten II Setda Ogan Ilir, yang menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam pengendalian rabies di wilayah Ogan Ilir. “Penanganan rabies membutuhkan kolaborasi nyata seluruh pihak agar masyarakat terlindungi, hewan ternak sehat, dan ekosistem tetap terjaga,” ujarnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet DKPP Sumsel menegaskan bahwa sektor peternakan memiliki peran vital dalam pilar ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. Konsep One Health menjadi dasar dalam pengembangan kebijakan peternakan di Sumsel, termasuk pelestarian plasma nutfah lokal seperti itik pegagan dan kerbau rawa, yang menjadi kekayaan hayati khas Ogan Ilir.
Perwakilan Pejabat Otoritas Veteriner (POV) Sumsel mendorong pengembangan sub-sektor peternakan berbasis potensi lokal dan wisata agroedukasi. Namun, peningkatan SDM dokter hewan menjadi kunci keberhasilan, mengingat saat ini Ogan Ilir hanya memiliki 3 personel dokter hewan untuk 16 kecamatan.
Balai Veteriner Lampung – Kementerian Pertanian menilai itik pegagan dan kerbau rawa memiliki potensi besar jika dikelola dengan pendekatan kesehatan hewan dan kompartementalisasi bebas penyakit, seperti Avian Influenza. Dukungan penganggaran vaksinasi rabies, PMK, dan SE sangat penting agar penyakit tidak menjadi hambatan dalam pengembangan potensi ini.
Sementara itu, keterbatasan lahan untuk penggembalaan kerbau rawa akibat program cetak sawah perlu diantisipasi melalui penetapan wilayah penggembalaan umum, seperti di wilayah Payaramang.
Kabupaten Ogan Ilir dinilai strategis sebagai wilayah buffer zone menuju Palembang bebas rabies. Dalam sembilan tahun terakhir, tidak ada kasus rabies pada manusia di OI. Total terdapat 8 Rabies Center dari 24 Puskesmas, melebihi target kebutuhan minimal.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel mencatat, GHPR (Gigitan Hewan Penular Rabies) masih tinggi, dengan 5.000 kasus dan 4 kematian di tingkat provinsi. Oleh sebab itu, pembentukan Tim Trikorda sebagai tim pengendali zoonosis kabupaten menjadi keharusan untuk mempercepat target bebas rabies.
BPBD Sumsel menambahkan bahwa keberadaan tim ini juga menjadi indikator dalam penilaian Kabupaten/Kota Sehat, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi penyakit infeksi baru.
Ketua PDHI Sumsel, drh. Alfin Suhanda, menyoroti minimnya tenaga dokter hewan di OI dan menyatakan komitmen PDHI untuk mendukung vaksinasi dan mobilisasi SDM. “Kami siap bersinergi dengan pemerintah daerah dalam vaksinasi dan pembinaan peternakan rakyat,” tegasnya.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian OI melaporkan adanya pelatihan juru sembelih halal (Juleha) dan sertifikasi NKV untuk beberapa unit usaha, sebagai bagian dari jaminan higiene sanitasi dan keamanan pangan produk hewan.
Paravetindo Sumsel turut menyatakan kesiapan menjadi pelaksana lapangan dalam pelayanan kesehatan hewan dan vaksinasi rabies bersama dokter hewan dan kader desa.
Asisten II Ogan Ilir menutup audiensi dengan penekanan pada dua hal utama: penambahan personel dokter hewan dan revitalisasi pasar hewan untuk meningkatkan pengawasan jual beli ternak serta Pendapatan Asli Daerah. Selain itu, usulan Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) dari Provinsi Sumsel untuk sektor peternakan akan diupayakan agar dapat diinklusikan dalam struktur penganggaran provinsi.
Peserta Audiensi
1. Bupati Ogan Ilir & Jajaran (Asisten II)
2. Kementerian Pertanian – Balai Veteriner Lampung
3. DKPP Provinsi Sumatera Selatan
4. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan
5. BPBD Provinsi Sumatera Selatan
6. BKSDA Sumatera Selatan
7. PDHI Sumatera Selatan
8. Paravetindo Sumatera Selatan
9. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. OI
Audiensi ini menjadi momentum penting memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan Sumatera Selatan yang tangguh dalam ketahanan pangan, sehat secara lingkungan, serta bebas zoonosis seperti rabies. Sinergi pemerintah, organisasi profesi, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan agenda besar ini.( Harto)















