Mediacakrabuana.id

Fenomena Rocky Gerung yang terkesan menggedor langit itu akibat krisis kepemimpinan dalam arti ketauladanan dan panutan, sebagai penuntun jalan berdasarkan akal sehat. Sama halnya dengan kehadiran Forum Negarawan yang beranjak dari Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) yang diwasiatkan oleh Gus Dur bersama Susuhunan Paku Buwono XII dan KH. Dr (Hc) Habib Khirzin serta tokoh nasional lainnya.

Esensi dari gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual itu diurai lebih mendetail melalui Forum Negarawan bersama sejumlah ahli dan pakar, baik dari kalangan akademis serta militer maupun dari kalangan profesional dan aktivis pergerakan yang ada di Indonesia. Karena itu, anggota Forum Negarawan juga terserak di berbagai tempat — berbagai daerah dan negara — dengan tetap membangun komunikasi dan bertukar informasi untuk kemudian saling dipublikasikan agar dapat memberi manfaat bagi orang banyak.

Gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman yang paling esensial itu diteruskan oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu dengan cara menghimpun sejumlah tokoh Nasional dari berbagai disiplin ilmu maupun profesi serta latar belakang rutin berkumpul untuk menyampaikan pandangan serta evaluasi kritisnya ikhwal negara dan bangsa Indonesia untuk menghadapi beragam masalah yang semakin rumit dan pelik dalam geopolitik global yang meliputi segenap aspek kehidupan, baik dalam tataran lokal, regional, nasional maupun Internasional.

Karena itu wajar pada pertemuan rutin bulanan setiap tanggal 11, beragam masalah dikemukakan untuk dicarikan jawaban terbaik hingga kemudian bisa disosialisasikan secara lebih meluas untuk menjadi acuan atau sekedar pembanding bagi warga masyarakat.

Fenomena yang terkesan membetot jantung kesadaran semesta di negeri ini tampak jelas akibat krisis kepemimpinan yang berakhlak mulia untuk mengedepankan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi. Memposisikan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan kelompok atau gang persekongkolan, baik dalam skala lokal maupun skala internasional yang mengancam kebangkrutan negeri kita ini.

Letupan pemikiran yang diekspresikan Rocky Gerung dalam bingkai akademik ingin membangun budaya akal sehat yang ugahari merupakan energi — sekaligus potensi — untuk membangun kelesuan dari gairah segenap warga bangsa yang depresi dan frustrasi akibat tekanan dari berbagai perwujudan sistem tata kelola negara dan bangsa yang tengah terperosok dan menukik pada lembah kehancuran.

Mulai dari masalah sengketa lahan, biaya hidup yang semakin mencekik, budaya politik yang saling memangsa, tradisi dalam niaga yang semakin buas dan liar hingga fondasi budaya dan agama yang dibiarkan rapuh, telah menjadi kecemasan umum yang meresahkan seperti peperangan terselubung yang terus menteror melalui peredaran narkoba, deras masuknya tenaga kerja asing — sementara angkatan kerja di negeri sendiri dibiarkan memble — jelas telah menyulut kegaduhan dan kemarahan yang terpendam, seperti bom waktu yang bisa memporak-porandakan semua tatanan yang telah dibangun. Dan upaya bangsa Indonesia untuk kembali kepada UUD 1945 yang asli, merupakan indikator dari dera derita yang yang tengah menahan rasa sakit itu. Karenanya, beragam diagnosa serta upaya penyembuhan harus segara dilakukan, sebelum terlambat dan menimbulkan sesal berkepanjangan dalam sejarah perjalan bangsa dan negara selanjutnya, sambil menggamit Pancasila sebagai mantra yang perlu kembali dilafaskan dalam setiap helaan nafas kita. Agar tidak menjadi fosil yang cuma dikeloni oleh BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila). Sebab di dalam sila-sila dari Pancasila ini, butir-butir mutiara etik profetik lengkap dan harmoni saling menggenapi dalam laku spiritual setiap khalifah di muka bumi.

Dalam paparan Prof. Sri-Edi Swasono — Leadership With Statesmanship — anggota Forum Negarawan adalah pemimpin-pemimpin informal yang terpanggil untuk menyelamatkan Republik Indonesia melalui kenegarawanan dengan kebersamaan. Antara Statesmanship dan leadership dalam perspektif kultural-tradisional Indonesia (Hasta Brata) meripakan seni memimpin negara dan bangsa, meski tidak harus berada di dalam pemerintahan.

Banten, 23 Agustus 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here