Oleh:Jacob Ereste
Dalam perjalanan menuju Jakarta dengan Bus Way, kawan yang duduk disebelah bercerits penuh semangat dan menggebu-gebu bercerita ikhwal iklim politik di Indonesia yang semakin panas. Dia berkomentar tentang ulasan Prof. Denny Indrayana yang sedang viral tentang “Ketelanjangan Politik Jokowi Harus Dilawan”.

Ia dangat memuji keberanisn Prof. Denny Indrayana menelanjangi perilaku politik yang dia anggap tidak senonoh oleh rezim yang rengah berkuasa diatas tahtanya.

“Sayangnya, Pak Denny yang berani dan pintar itu ikut dengan ucapan petinggi Partai Golkar yang menggunakan istilah pencopet untuk mereka yang mau mengambil alih Partai Golkar dan Partai Demikrat, katanya dalam nada protes yang ditimpali ekspresi penyesalannya.

Secara terus terang dia juga mengaku sebagai seorang pencopet yang sudah cukup berpengalaman. Sehingga perilaku copet, menurut dia tidak seperti kteteria yang dikakatan politisi Partai Golkar itu. Apalagi, menurut dia, istilah copet untuk merebut partai Golkaf dan Partai Demokrat itu dikutif jugs oleh Denny Indrayana, hingga terkesan memberi pembenaran pada pencopetan di ranah politik menjelang Pemilu tahun 2024.

Denny Indrayana memang punya alasan memapar fakta politiknya dari kasus hukum yang berlanjut atau tidak, ibaratnya cukup dengan anggukan kepala atau bahkan hanya kerdipan mata Presiden Jokowi.

Kawan kita ini yang mengaku sebagai pencopet mengutip secara persis apa yang dikatakan Denny Indrayana dari media whatsapp yang mencatat dengsn utuh paparan ysng ditulis Denny Indrayana dari Melborne, komplit dengan tanggal yang tertera dibawah ulasan itu, 26 Juli 2024

Duduk perkara yang menjadi keberatan kawan pencopet ini adalah istilah yanh digunakan tulisannya itu.
Sebab seorang yang cuma profesi pencopet tidaklah memiliki kapasitas untuk mdngambil-alih partai politik yang hebat itu. Lagian, seorang pencopet akan mebfambil alih barang milik orang lain tetap dalam kondisi senyap. Tidak gaduh apalagi disedumbatkan sehingga orang banyak tahu akan ada gerakan untuk meambilalih barang milik orang lain.

Jadi kalau hasrat untuk mengambil-alih partai Demokrat dan Partai Golkar itu dilakukan secara paksa dan terang-terangan, itu artinya begal atau perampokan.

Jadi istilah copet itu hanya untuk orang yang ingin mendapatkan barang milik orang lain secara senyap tidak perlu heboh.

Jadi, menurut dia hasrat untuk merebut atau merampas Partai Demokrat dan Partai Golkar itu, tak bisa disebut pencopetan, tapi begal atau persmpasan karena modusnya heboh dan dilakukan secara paksa.

Andai saja pengambilalihan kedua partai politik secara paksa itu bisa terwujud, tampaknya akan menjadi tontonan ekstra menjelang Pemilu 2024 yang makin memanas, sehingga dapat sejenak melupakan sejunlah kasus korupsi yang semakin mebjengkelkan, kata kawan pencopet kita ini yang tidak mampu menyenbunyikan rasa kecemburuan sosialnya hingga nyaris pensiun dari profesinya sebagai pencopet tak kunjung bisa hidup berkecukupan sekedar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Meski begitu, toh hp genggamnya cukup mryakinkan pasti tidak murah. Dalam hp-nya itu tersimpan tulusan Denny Indrayana yang mengungkap menjelang Pilpres 2024, Presiden Jokowi sangat jelas dan terang mau cawe-cawe dalam pemilihan Presiden, tentu saja untuk kebih memastikan Calon Presiden yang dijagokannya garus menang. Sikap Jokowi ini, kata Denny Indratana sangat negatif-destruktif didatnya. Sebab seorang Presiden yang masih menjabat haruslah bersikap netral, kata kawan kita ini membenarkan.

“Cawe-cawe Jokowi yang mencopet Partai Demokrat dan mau juga nencopet Partai Golkar, lalu mengganggu koalisi KPP, dan mau menjegal Anies Baswedan dll, adalah cawe-cawe yang ssngat telanjang tidak beretika, tidak berladaskan moral politik”, kata sang pencopet ini membacakan ulasan Denny Indratana yang dia simpan dengan baik dalam memori hp mewahnya itu.

Jadi masalahnya bagi saya sebagai pencopet sangat keberatan kerja hebat itu tidak disebut merampok atau membegal. Sebab hanya mereka yang memiliki kapasitas perampok dan pembegal yang mampu melskukan kerja sebesar itu.”Toh, yang harus dihadapi dari Partai Demokrat itu, setidaknya adalah SBY, dan dari Partai Golkar justru lebih banyak tokohnya.

“Tapi saya kira hasrat merampok dan membegal kedua partai itu ganya gimik saja”, katanya memberi komentar. Atau, sekedar untuk menguji ketangguhan para tokoh dari kedua partai tersrbut, imbuhnya sambil pamitan karena ingin turun di halte busway Juanda, Jakarta Pusat.

Jakarta, 28 Juli 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here