Oleh:Jacob Ereste
Orang-orang yang menanam dendam, tak lama lagi akan panen raya. Sebentar lagi pun segera dimulai menandai upacara musim tanam baru pun harus dimulai.

Dendam yang tumbuh subur dimana-mana telah memutik dan bermekaran bunganya.

Emak-emak yang ikut memetik, tersungkur dan terkapar di jalan pulang ke rumah yang tak menemukan apa-apa dan tak ada siapa-siapa.

Segenap anggota keluarga — anak, istri, suami bahkan tetangga sebelah rumah — tumpah ruah ke jalan raya, lebih dakhsyat tahun 1998.

Penanam dendam itu satu-satu diruntuhkan dari pepohonan yang mereka tanam sendiri, untuk kemudian patut mereka nikmati sendiri seperti ketika menanam, menyemai hingga menuai buahnya di saat panen raya tiba.

Dendam-dendam yang telah memenuhi segenap taman kota, seperti berarak menelanjangi kerakusan mereka yang melahap habis secupak nasi kita kemarin.

Dan hari ini, sejarah menyaksikan sendiri kepongahan berulang. Kesombongan ditebarkan. Kekayaan dipertontonkan, entah dari mana saja asal muasalnya tak perlu cerita. Sebab narasinya pun hasil curian dan rekayasa seperti di pengadilan yang telah menjadi pasar.

Petani yang merintih dan menghiba di ladang dan sawah, nyaris mati tertimbun beras impor menjelang musim kampanye yang perlu menebar citra. Hingga duit sebakul yang tumpah kelak bisa diganti dalam jumlah bergoni-goni tanpa perlu ditimbang.

Saat dendam terlanjur lumat menjadi kesumat, siapa bisa menyapa ramah ingin kembalikan narasi yang juga terlanjur ditulis dan menebar ke lorong-lorong kampung yang kumuh, karena luput juga dari pengawasan petugas yang ikut mabuk menikmati duit narkoba yang bertaburan seperti di meja judi yang rapi dan santun diselenggarakan.

Jadi soal unggah-ungguh perlu juga agar budaya judi dianggap lebih beradab semacam permainan narkoba yang terjaga serta terpelihara seperti ikan arwana beranda istana.

Begitulah kebodohan umum dibiakkan. Ketakutan massal dipelihara agar uang piket bisa terus dikucurkan. Kerusuhan pun diciptakan, supaya anggaran bisa diturunkan.

Ini semua hanya terjadi di negeri kami yang gaduh menyoal Ikhwal pasal dan ideologi yang tergadai di pasar loak. Bukan pula alasan tak ada duit untuk menebus, karena memang pasal dan ideologi yang juga sering latah disebut falsafah itu barang tua yang dianggap telah lapuk dan usang, hingga patut dijual murah.

Aku pun marah, seperti kalian yang tak lagi mampu ditahan !

Banten, 29 Maret 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here