Mediacakrabuana.id
Lima dalih utama Samuel P. Huntington tentang benturan peradaban akan menjadi sumber konflik di masa depan umat manusia di bumi setelah perang dingin berakhir, pertama karena perbedaan peradaban yang nyata dan mendasar sifatnya.
Kedua, dunia semakin terasa menyempit, sehingga interaksi antara orang yang berbeda peradaban semakin meningkat. Lalu berikutnya yang ketiga, akibat peran bangsa Barat begitu dominan sehingga menimbulkan reaksi de-westernisasi di dunia non-Barat.
Keempat, Samuel P. Huntington melihat peran budaya manusia kurang mampu menyatukan, dibanding perbedaan politik dan ekonomi. Hingga kemudian — masalahnya yang kelima — kesadaran peradaban bukan rasio d’etre utama terbentuknya regionalisme politik atau ekonomi.
Atas dasar itu pula rumusan tentang penyebab benturan peradaban yang digulirkan Samuel P. Huntington tidak sepenuhnya dapat diapresiasi oleh warga masyarakat dunia yang kritis dan tekun memberi perhatian terhadap pergolakan dan perubahan jaman, tapi teorinya tak kalah banyak menuai kritik serta cibiran. Karena fantasinya yang fantastik justru tidak menggambarkan sangat jaman yang kukuh berpijak pada globalisasi dan pluralitas, toleransi serta kesetaraan.
Kecuali itu, definisinya tentang peradaban yang akan saling berbenturan itu adalah Barat, China (Konfusius), Jepang, Islam, Hindu, Ortodoks Slavia, Amerika Latin dan juga Afrika. Jadi kerancuan dari kriteria peradaban yang campur aduk ini — posisi geografis tempat (Barat), ajaran (Konfusius), etnik (Slavia), negara (Jepang), agama (Islam) dan benua (Afrika) sungguh tidak konsisten untuk mendefinisikan peradaban yang dia perkirakan akan berbenturan yang akan dihadapi umat manusia pada masa depan.
Meski begitu, toh isyarat terhadap Islam — sebagai agama yang patut diperhitungkan di masa depan — perlu menjadi perhatian, setidaknya semakin memperjelas mengapa Islam harus dihalangi dan diganjal perkembangannya yang melesat mengusung konsep rahmatan lil alamin untuk seluruh umat manusia, bukan cuma sebatas untuk umat Islam semata.
Konsep dan pemahaman tentang rahmatan lil alimin yang diusung umat Islam dengan baik dan benar, jelas akan menjadi daya magnit yang tak mungkin diingkari atau dijauhi. Pengertian paling sederhana tentang rahmatan lil alamin itu — yang mengusung kedamaian di bumi — semakin diperlukan dengan pendalaman terhadap pemahaman bahwa setiap manusia itu adalah khalifah — wakil Allah SWT — di muka bumi. Dan semua manusia selalu diingatkan bahwa kehadirannya sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk yang lain, termasuk dibanding Malaikat, apalagi bila disanding dengan Iblis dan Syaitan.
Artinya, kesadaran dan pemahaman setiap manusia sebagai makhluk yang paling mulia — bermartabat, berakhlak dan berakal serta bijak — yang terbaik dari makhluk yang baik — adalah bagian dari peradaban manusia yang harus terus dipelihara bersama alam dan seisi bumi. Sehingga hasrat untuk saling memusnahkan antara yang satu dengan yang lain — termasuk sikap abai terhadap kekayaan alam dan lingkungan sebagai bagian dari karunia Tuhan — adalah untuk kehidupan manusia di bumi.
Begitulah fenomena kehidupan modern dengan karekteristiknya yang terus melesat cepat dalam perubahan dengan implikasi yang mereduksi dimensi paling fundamental dalam kehidupan manusia, yaitu spiritualitas. Demikian ungkap Ngainun Naim dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Tulungagung.
Akibat dari tereduksi nya dimensi spiritualitas berimplikasi pada kemunculan beragam persoalan dalam kebudayaan modern, seperti alienasi, anomali sosial dan berbagai persoalan lain. Begitulah kondisi dari kemunculan fenomena budaya baru dalam masyarakat dalam skala lokal, regional, nasional maupun internasional. Hingga adanya kegandrungan terhadap laku spiritual yang tinggi dari warga masyarakat khususnya di perkotaan untuk mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan dengan aspek spiritualitas.
Sekitar 30 tahun silam John Naisbitt dan Patricia Aburdene telah meramalkan kebangkitan spiritualitas, meski dia berpendapat bahwa kebangkitan spiritualitas ini tidak identik dengan kebangkitan agama. Sebab spiritualitas dan agama bukan sesuatu yang tunggal. Bahkan mereka berdua percaya bahwa agama dan spiritualitas merupakan sesuatu yang terpisah. Karena itu jadi menarik untuk menyandingkan tesis John Naisbitt bersama Patricia Aburdene dengan pendapat Francis Fukuyama yang menempatkan Islam sebagai satu-satunya agama yang sangat potensial menjadi rival terberat dalam kecamuk benturan peradaban yang sedang terjadi untuk masa depan pada hari ini. Tapi gejala dalam peningkatan gairah dan semangat masyarakat terhadap aspek spiritualitas terus meningkat.
Begitulah, spiritualitas semakin menjadi kebutuhan, bahkan menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati secara lebih kritis. Setidaknya, gerakan kebangkitan dan kesadaran serta pemahaman spiritual yang gigih diperjuangkan Sri Eko Sriyanto Galgendu melalui GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) sebagai wadah perjuangan Gus Dus (Abdurahman Wahid) bersama Dr (HC). KH. Habib Chirzin dan Susuhunan Paku Buwono XII, sungguh mulai menampakkan hasilnya yang menggembirakan.
Agaknya, gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual ini dapat semakin kukuh setelah rencana pertemuan persaudaraan antar negara dan agama yang akan segera dilaksanakan GMRI di Indonesia dalam waktu dekat. Sehingga Indonesia akan menjadi pusat peradaban dan kiblat gerakan kebangkitan spiritualitas dunia.
Banten, 13 Maret 2024















