Polsri Dorong Modernisasi Budidaya Ikan Gabus di Sumsel: Teknologi IoT Tingkatkan Produksi hingga 95%
PALEMBANG, — Mediacakrabuana.id
Kegiatan pengembangan teknologi budidaya ikan gabus yang digagas Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan difasilitasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Ditjen Sains Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, kembali berlanjut melalui dialog publik yang menghadirkan pemerintah, enabler bisnis, peneliti, akademisi, UMKM, hingga pelaku usaha perikanan. Program ini merupakan rangkaian dari Katalisator berdikari yang sebelumnya telah meliputi pengembangan perangkat teknologi serta workshop pendampingan.
Wakil Direktur Bidang Akademik, Dr. Yusri M.Pd menyampaikan bahwa, Penelitian Harus Berdampak Nyata untuk Sumsel. Dan menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah lanjutan dari program ekosistem kemitraan, di mana peneliti Polsri menggandeng penulis akademik serta para wirausahawan untuk mewujudkan inovasi yang berkelanjutan.
“Ikan gabus adalah produk unggulan Sumatera Selatan. Namun karena banyak ditangkap dan dikonsumsi langsung, menyebabkan ikan ini sulit didapat, sementara untuk budidaya dan pemijahannya tidak tumbuh optimal. Peneliti mengembangkan teknologi yang kini sudah sampai pada tahap implementasi perangkat. Tujuannya agar teknologi bisa dipakai secara berkelanjutan dan berdampak bagi pemerintah serta UMKM,” ujarnya.
“Kegiatan ini tidak hanya berakhir pada jurnal, tetapi benar-benar harus berdampak bagi pembangunan sektor perikanan di Sumsel,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kehadiran petani ikan dan UMKM dalam dialog publik ini merupakan bagian dari upaya berdikusi tentang peluang bisnis yang dapat diraih ke depan. Kegiatan ini juga mengedukasi pentingnya teknologi dalam mendukung keberlanjutan bisnis dan pertanian—termasuk perikanan.
Dr. Irma Salamah S.T.,M.T.I Wakil Direktur Bidang Kerjasama Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi menegaskan, harus selaras dengan Tri Dharma, Penelitian Harus Memberi Dampak Nyata menegaskan bahwa topik yang diangkat sangat relevan dengan kondisi produksi ikan gabus di Sumsel yang tengah menurun, padahal permintaannya terus meningkat.
“Ini adalah implementasi Tri Dharma perguruan tinggi—penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ikan gabus adalah komoditas unggulan Sumatera Selatan, namun produksinya menurun. Penelitian ini sangat penting dan selaras dengan slogan Kementerian: Kampus Berdampak,” ungkapnya.
“Penelitian tidak berhenti di satu titik, tetapi terus berlanjut agar manfaatnya semakin luas,” tambahnya.
Bobby Aryadi (Kandang Om Bobby) pelaku usaha mitra Polsri, menyampaikan bahwa teknologi berbasis IoT (Internet of Things) yang diberikan Polsri membawa perubahan besar terhadap produksi bibit ikan gabus di Palembang.
“Dulu kami minus hingga 40%, tapi sekarang hanya tinggal 5%. Artinya produksi kami naik menjadi 95%. Ini sangat membantu petani pembesar ikan gabus karena kebutuhan bibit kini bisa terpenuhi,” Jelasnya.
Ia memaparkan bahwa teknologi otomasi yang dikembangkan Polsri memungkinkan pengelolaan akuarium ataupun kolam hanya melalui ponsel:
“Sekarang ganti air, atur suhu, dan kontrol lainnya bisa dari HP. Dulu harus bangun jam empat pagi, sekarang cukup tekan tombol. Ini sangat memudahkan kami,” ujarnya.
Bobby juga menilai teknologi ini mengurangi ketergantungan pada bibit dari tangkapan liar—lebih dari 50% bibit kini berasal dari budidaya mandiri.
Namun ia menyebut hingga kini belum ada bantuan pemerintah:
“Belum ada bantuan dari pemerintah, baru Polsri yang turun membantu lewat koordinasi dengan Disnaker Kota Palembang. Kami sangat terbantu.
Ketua Pelaksana, Dr. Nyayu Latifah Husni ST.,MT juga mengatakan bahwa, Tahun 2026, tim menargetkan untuk melanjutkan penelitian channa sense dengan Fokus Penguatan Ekosistem dan Penggunaan Energi Surya. DIalog publik ini merupakan agenda ketiga dari rangkaian ekosistem kemitraan yang sedang dibangun.
“Setelah pengembangan teknologi dan workshop, dialog publik ini kami harapkan menghasilkan konsep iptek yang konkret sehingga model bisnis ke depannya dapat berjalan mandiri. Kami dapat memetakan siapa stakeholder yang terlibat dan bagaimana ekosistemnya bisa berkelanjutan,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa pada 2026 tim akan kembali mengajukan pendanaan baru.
“Kita harus melihat kendala saat ini dan apa pengembangan perangkat selanjutnya. Tahun lalu kita fokus pada pernagkat channa sense dengan suplai energi dari PLN, dan tahun depan kami berencana mengembangkan tenaga surya agar tidak hanya bergantung pada PLN,” ujarnya.
Dan yang pastinya kami perlu dukungan pemerintah.
“Kami mengundang koperasi, dinas ketenagakerjaan, serta Dinas kelautan dan perikanan. Kami berharap perangkat terus dipakai dan ekosistem kemitraan semakin kuat.”
Kesimpulan :
Program teknologi budidaya ikan gabus Polsri terbukti memberikan dampak signifikan bagi pelaku usaha di Sumsel. Dengan peningkatan produksi hingga 95% dan penggunaan teknologi IoT yang mempermudah pengelolaan akuarium pemijahan, kegiatan ini berpotensi menjadi model inovasi nasional. Harapan besar kini tertuju pada dukungan pemerintah agar ekosistem budidaya ikan gabus semakin berkelanjutan dan mampu memperkuat ekonomi daerah. (Harto)















